Perikanan dan Kelautan

koranbisnis.com
koranbisnis.com
Sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh lautan luas, Indonesia justru belum maksimal dalam memanfaatkan laut untuk sarana transportasi. Berdasarkan paparan Menteri Perhubungan, selama ini porsi angkutan barang dan orang dengan moda transportasi laut masih minim yaitu kurang dari 10%, sementara angkutan darat menguasai 90% dan udara 0,05%.

Padahal tingginya volume angkutan barang dengan moda jalan raya, telah menimbulkan masalah berupa kemacetan, risiko kecelakaan tinggi, serta besarnya biaya pembangunan dan perawatan jalan. Mirisnya, di tengah kesemerawutan lalu-lintas, potensi terjadinya kejahatan dan pungutan liar, terutama pada angkutan barang, menjadi besar.

Lebih dari itu, kemacetan yang menyebabkan lamanya waktu tempuh pengiriman barang telah menimbulkan ketidakefisienan angkutan moda jalan raya. Akibatnya, utilisasi armada truk menjadi rendah, sehingga biaya operasional menjadi tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memberikan kontribusi pada tingginya biaya logistik di Tanah Air.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan biaya logistik. Namun upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan jika merujuk pada indeks logistik Indonesia yang masih rendah, dengan angka di bawah indeks beberapa negara di kawasan Asean.

Kini, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan untuk menekan biaya logistik adalah mengoperasikan feri jarak jauh lintas Surabaya—Lembar untuk tahap awal. Lintasan yang lebih panjang yaitu Lampung—Jakarta—Surabaya—Lembar, Lombok, masih dalam pengkajian.

Di atas kertas, pengoperasian feri Surabaya—Lembar bisa mengurangi volume angkutan barang pada jalan raya Surabaya—Banyuwangi dan perjalanan darat antara Gilimanuk—Padang Bai di Bali. Berkurangnya volume angkutan barang di jalan raya ini diharapkan bisa meningkatkan kenyamanan wisatawan.

Dalam perkirakaan Kemenhub, pengalihan angkutan barang ke feri jarak jauh bakal memangkas biaya logistik hingga 20%. Penurunan ini berasal dari berkurangnya biaya kepelabuhanan yang selama ini memberikan kontribusi sekitar 40% terhadap biaya pengiriman barang antarpulau.

Biaya tersebut bisa terpangkas karena angkutan barang dengan menggunakan kapal jenis Ro-ro —yang digunakan feri jarak jauh—tidak memerlukan penanganan khusus di pelabuhan. Barang yang diangkut truk bisa langsung masuk kapal Ro-ro, sehingga waktu pengiriman logistik relatif lebih cepat.

Dengan masuknya truk pengangkut barang ke dalam geladak feri, maka tujuan utama pengoperasian feri jarak jauh untuk mengurangi beban dan biaya perawatan jalan raya juga bisa tercapai. Sementara bagi pengusaha angkutan truk, biaya operasional dan pemeliharaan armada bisa ditekan.

Pemerintah juga yakin operasional feri jarak jauh bisa menciptakan efisiensi waktu, karena waktu tempuh dari Surabaya langsung ke Lembar diperkirakan sekitar 21 jam, lebih singkat dibandingkan dengan kombinasi jalan darat dan feri Surabaya—Bali—Lembar yang selama ini mencapai 48 jam.

Tentu di samping kelebihan-kelebihan tersebut, pembukaan feri jarak jauh Surabaya—Lembar bisa menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan kepada operator kapal feri swasta yang selama ini melayani lintas Ketapang—Gilimanuk dan Padang Bai—Lembar. Untuk itu perlu dicari jalan keluar untuk mengatasi risiko dari berkurangnya volume angkutan barang para operator kapal feri swasta.

Harian ini berpendapat Kementerian Perhubungan hendaknya membuka kesempatan kepada operator feri swasta yang berniat mengoperasikan feri pada rute yang sama. Jika Kemenhub memberikan subsidi tarif untuk angkutan feri Surabaya—Lembar yang dioperasikan BUMN PT ASDP Indonesia Ferry, maka subsidi juga harus diberikan kepada operator swasta.

Selain memberikan perlakuan yang sama, pemerintah juga harus mampu menjaga kesinambungan layanan feri jarak jauh. Jangan sampai layanan tersebut berhenti di tengah jalan karena kurang direspons oleh pasar. Oleh karena itu sosialiasi kepada operator truk dan pemilik barang mengenai feri jarak jauh yang menawarkan tarif yang terjangkau, kepastian layanan dan keamanan, mutlak diperlukan.

Harapannya, dengan tingginya respons pasar atas dioperasikannya feri jarak jauh, maka semua tujuan yang ditetapkan bisa tercapai, termasuk meningkatnya kontribusi moda laut dalam melayani angkutan barang dan orang.

Bisnis Indonesia