Perikanan dan Kelautan

tribunnews.com
tribunnews.com
Pemerintah mulai mencemaskan penurunan ekspor tekstil dan produk tekstil dalam negeri. Tekstil dan produk tekstil Indonesia juga kalah bersaing dengan negara-negara tetangga, seperti Vietnam dan Banglades.

Vietnam menguasai 3,62 persen pangsa pasar tekstil dan produk tekstil dunia, sedangkan Banglades menguasai 4,05 persen pangsa pasar tekstil dunia. Sementara volume ekspor Indonesia sejak awal tahun 2016 hingga saat ini turun 4,3 persen dibandingkan dengan volume ekspor pada periode yang sama tahun 2015.

"Saya minta semua kementerian terkait mengambil langkah-langkah terobosan dalam permasalahan yang ada di industri tekstil dan produk tekstil kita," kata Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pengantar rapat terbatas membahas tata niaga tekstil dan produk tekstil di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (6/12).

Produk tekstil Tanah Air juga belum mampu menguasai pasar domestik. Pasar domestik malah diserbu produk tekstil luar negeri. Padahal, industri tekstil dan produk tekstil merupakan industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja.

Industri tekstil juga mencetak banyak lapangan kerja baru, terutama terkait dengan distribusi dan perdagangan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan pusat-pusat mode di Indonesia.

"Oleh karena itu, harus terus diupayakan kebijakan yang mendukung industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri agar lebih kompetitif," kata Presiden.

Salah satu terobosan yang diusulkan Presiden adalah penurunan harga gas industri. Selain itu, prosedur mengimpor bahan baku produksi yang berorientasi ekspor perlu disederhanakan.

Seusai rapat terbatas, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, saat ini impor bahan baku relatif mudah. Namun, masih ada persoalan, yakni penyalahgunaan izin impor kerap terjadi. "Jadi, impornya melebihi dari yang diperlukan," katanya.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian akan menata ulang proses perizinan impor bahan baku tekstil.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menambahkan, terobosan yang akan dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan industri tekstil dan produk tekstil akan dibahas secara lebih terinci dalam rapat bersama menteri-menteri di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia turun dari 12,7 miliar dollar AS (Rp 179,243 triliun) pada 2014 menjadi sekitar 12,3 miliar dollar AS (Rp 164,881 triliun) pada 2015. Adapun nilai ekspor pada semester I-2016 sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 80,43 triliun. (NTA)

Kompas