Perikanan dan Kelautan

hallo.id
hallo.id
Sejumlah ka­langan mengemukakan guna meredam guncangan dari dam­pak kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), Indonesia harus mem­perkuat fundamental ekonomi. Salah satu hal yang mendesak dilakukan adalah upaya mem­balikkan gejala deindustrial­isasi atau reindustrialisasi.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Mudrajad Kun­coro mengatakan, hingga kini, sektor industri dinilai masih jalan di tempat, dan tumbuh di bawah laju per­tumbuhan ekonomi nasional. Sektor tersebut menghadapi masalah deindustrialisasi yang telah berlangsung sejak 2001, berupa menurunnya jum­lah perusahaan, menciutnya penciptaan lapangan kerja, dan menurunnya sumbangan industri terhadap produk do­mestik bruto (PDB).

Mudrajad menegaskan pada intinya adalah bagaimana pe­merintah menguatkan funda­mental ekonomi, dan deindus­trialisasi adalah akar dari segala masalah tersebut. Industri ma­nufaktur tumbuh 4,56 persen pada triwulan III-2016, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen.

Ia mengatakan meskipun nilai tambah yang disumbang­kan sektor industri mencapai 19,9 persen dari PDB, kinerja ini masih jauh dari yang dite­tapkan pemerintah sekitar 21 persen terhadap PDB selama tahun 2015-2016. Bahkan bila dirinci, pada triwulan III-2016, sektor industri nonmigas ha­nya menyumbang 17,82 persen dari PDB Indonesia.

“Inilah yang perlu kita se­lesaikan. Cari akar masalah­nya dan fokus perbaiki. Sektor industri ini yang diperbaiki se­cara holistik bukan hanya be­ban kemenperin. Ini kerja be­sar, bukan parsial-parsial,” kata Mudrajad kepada Wartawan di Jakarta, Minggu (18/12/2016).

Menurut data Badan Pusat Statis­tik (BPS) menunjukkan pada 2006-2014 jumlah perusahaan besar di Indonesia cenderung menurun. Jumlah perusahaan besar pada 2006 sebanyak 29.468 kemudian menurun menjadi 24.529 pada 2014. “Namun, kenaikan jumlah perusahaan pun tidak diikuti dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja. Inilah yang di­sebut jobless growth,” ungkap Mudrajad.

Sebelumnya, ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengung­kapkan kenaikan bunga acuan The Fed sebesar 0,25 persen pekan lalu bakal makin mene­kan ekonomi Indonesia tahun depan. Sebab, kenaikan itu akan mengganjal pertumbuh­an kredit perbankan nasional sehingga bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, kenaikan Fed Funds Rate (FFR) yang diiringi dengan menguatnya dollar AS tersebut juga membuat biaya utang pemerintah membeng­kak akibat meningkatnya bu­nga surat utang, dan tambahan beban depresiasi rupiah pada utang dalam mata uang AS.

Menanggapi dampak kenaikan FFR itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjone­goro, juga berpesan agar Indo­nesia tidak pesimistis. Indone­sia harus menjaga fundamental ekonomi agar tidak terguncang akibat putusan The Fed itu.

“Yang paling penting yang harus dijaga adalah fundamen­tal ekonomi kita. Ya baik di de­fisit transaksi berjalan, kinerja ekspor kita terutama di trade balance, dan juga stabilitas dan sustainability dari fiskal. Saya pikir yang penting jaga funda­mental makro,” jelasnya

Bhima menambahkan te­kanan terhadap perekonomian nasional makin berat karena ke­naikan FFR itu dibarengi dengan tren deglobalisasi dan bayangan melesatnya inflasi akibat ke­naikan tarif listrik dan harga ba­han bakar minyak tahun depan.

“Tren deglobalisasi yang didorong oleh kebijakan Presi­den terpilih AS, Donald Trump, yang cenderung proteksionis membuat ekspor Indonesia akan makin berat,” jelas dia.

Bahkan, kata Bhima, surplus perdagangan yang terjadi sam­pai Oktober 2016 pun sebenar­nya surplus semu, yakni surplus yang bukan didorong oleh ki­nerja ekspor namun karena pe­nurunan impor lebih dalam ke­timbang penurunan ekspor.

Selama Januari-Oktober ta­hun ini, impor bahan baku pe­nolong tumbuh negatif, impor barang modal negatif, semen­tara impor bahan jadi justru meningkat 13 persen. “Sebelum ada wacana Trump dan ancaman penurunan ekonomi Tiongkok, industri kita sudah tertekan. Bila ber­lanjut sampai 2017, ini berarti deindustrilisasi makin dalam,” pungkasnya. (mae/fkb)

hallo.id