Perikanan dan Kelautan

sindonews.com
sindonews.com
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menjalin kerja sama dengan Asosiasi Woodworking Machinery, Lunjiao, China, guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi industri mebel dan kerajinan. Kerja sama ini diawali dengan penandatanganan MoU di antara kedua belah pihak.

Wakil Ketua Umum Bidang Produksi dan SDM HIMKI, Yanti Rukmana mengatakan, Asosiasi Woodworking Machinery akan membantu dan mendukung para pelaku industri mebel dan kerajinan nasional dalam alih teknologi serta pengembangan R&D (riset dan pengembangan) dengan menyediakan mesin-mesin terkini dan harga yang terjangkau, serta adanya jaminan after sales service -nya.

”Kita ingin belajar, bagaimana China bisa menguasai market furnitur di dunia dan belajar upaya apa yang dilakukan oleh pengusaha mebel di China. Lebih dekat, kita melihat bahwa teknologi memang sangat kita perlukan dalam rangka menaikkan target ekspor kita,” ujarnya, dalam keterangan tertulisnya.

Demi mewujudkan kerja sama tersebut, pada 7- 11 Desember lalu pengurus dan anggota HIMKI berkunjung ke Lunjiao Woodworking Machinery Expo 2016 di China, serta factory visit ke Woodworking Machinery di Lunjiao dalam rangka studi banding.

Acara ini diikuti oleh 19 orang pengusaha mebel dan kerajinan nasional yang merupakan pengurusdananggotaHIMKIyang terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HIMKI dan perwakilan dari beberapa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HIMKI DIY Yogyakarta, Semarang, Solo, Bandung, dan Jakarta.

"Pada kunjungan pameran di Lunjiao Woodworking Machinary, sebuah area yang merupakan pabrik pembuat mesin-mesin tersebut benar-benar up to date dan berkembang sangat cepat, sehingga mesin-mesin yang modern sudah tidak asing lagi. Di sana kita belajar banyak sekali kenapa industri furnitur kita sangat tertinggal oleh mereka,” jelas Yanti.

Dia melanjutkan, sebagian besar pelaku industri mebel dan kerajinan nasional adalah kelompok IKM. Untuk membeli mesin mebel dan kerajinan, banyak pelaku IKM Tanah Air yang belum bisa menjangkau. ”Karena kemampuan dari IKM ini yang tidak bisa atau tidak tahu suplai yang benar, sehingga mereka harus membeli mesin dari importir penjual mesin. Tentunya dengan harga yang sangat mahal bila dibanding dengan direct import,” ungkapnya.

Untuk itu, kata Yanti, HIMKI menjembatani kerja sama ini dengan harapan mereka akan mendukung dalam hal alih teknologi dan penyediaan mesin-mesin yang sesuai kebutuhan anggota HIMKI. ”Apabila nantinya pemerintah bisa mendukung misalnya dengan kemudahan-kemudahan impor, untuk IKM, sehingga efisiensi biaya bisa lebih terjangkau dan mendorong produktivitas lebih cepat lagi,” pungkasnya.

sindonews.com