Mitra dan Donor Kami

Semarang - Isu kesertaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion/ GESI) belum banyak diintegrasikan dan diimplementasikan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja.
Umumnya, kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja tidak secara khusus membahas isu GESI namun lebih banyak membahas tentang kesiapan dan peraturan kerja. Akibatnya, perempuan dan penyandang
disabilitas sering kali dianggap sebelah mata dalam urusan pekerjaan bahkan sering mendapat perlakukan yang tidak adil dan tidak menyenangkan. Banyak hak mereka yang tidak dipenuhi dan
disetarakan.

SINERGI sebagai salah satu proyek USAID yang fokus pada isu ketenagakerjaan inklusif untuk kaum muda kurang mampu dan rentan termasuk perempuan dan penyandang disabilitas merasa isu GESI
sangat penting dikenalkan pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja. Sebagai langkah awal mengenalkan isu GESI, SINERGI menyelenggarakan kegiatan workshop Penerapan Metode dan Teknik
Fasilitasi Pelatihan dan Pemagangan Kerja Berperspektif Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) pada tanggal 30-31 November 2018 di Hotel Room Inc, Semarang.

Kaum Muda dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang memberikan testimoni kepada peserta workshop untuk tidak mengangap sebelah mata kemampuan mereka dalam bekerja dan bekarya. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)
Kaum Muda dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang memberikan testimoni kepada peserta workshop untuk tidak mengangap sebelah mata kemampuan mereka dalam bekerja dan bekarya. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

 

Drs. Juwandi, M.Si, Sekretaris Bappeda Provinsi Jawa Tengah sekaligus ketua Kelompok Aksi (POKSI) Ketenagakerjaan Inklusif Jawa Tengah dalam sambutannya pada pembukaan workshop menjelaskan,
“jujur tema workshop ini menarik, khususnya untuk bidang perencanaan di Bappeda dan juga BLK. Satu pendekatan baru, bahwa tidak cukup perencanaan saja pada satu masalah, Ini sudah masuk pada
tataran gender dan inkusif. Mungkin tidak ada satupun pelatihan yang menyentuh difabel. Semua masuknya di sosial. Ini kegiatan penting untuk dipahami oleh para pelatih lembaga pelatihan kerja dan
perusahaan.”

Terkait isu kesetaraan gender, Dra. Myra Diarsi, anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Provinsi Jawa Tengah menjelaskan,” bicara kesetaraan gender dalam lingkungan kerja, desain
dan roadmap pengembangan kapasitas harus sensitif gender, akses informasi peluang kerja perlu menembus kendala perbedaan gender, sistem pelatihan kerja yang berbasis keterampilan dan kapasitas
bukan karakter jenis kelamin dan yang tidak kalah penting adalah mengakomodasi kebutuhan perempuan dan difabel.” Isu GESI pada kegiatan pelatihan dan pemagangan kerja juga perlu terintegrasi pada kurikulum dan modul pelatihan. Begitu juga untuk fasilitator atau pengajarnya harus ada keterwakilan perempuan dan laki - laki.

Pada ranah isu inklusi sosial, peserta workshop mendapatkan pemahaman tentang Membongkar Mental lock Kaum Muda Difabel dan Memahami Karakteristik Psiko-Sosial dan Kultur Peserta Pelatihan Kaum
Muda Difabel. Peserta workshop juga berkesempatan mendengarkan testimoni dari delapan kaum muda penyandang disabilitas dari Komunitas Sahabat Difabel (KSD) Semarang.

Dalam testimoni tersebut, dijelaskan bahwa membongkar mental block sangat penting bagi penyandang disabilitas dan non difabel agar bisa menjalin kesetaraan. Para penyandang disabilitas mengajak peserta
workshop untuk belajar memahi psiko-sosial difabel. Mereka bisa berdaya dan bekarya jika diberi kesempatan dan bukan anggapan remeh sebelah mata.

“Yang kami butuhkan adalah kesempatan dan kepercayaan. Jadi tolong beri kami kesempatan agar bisa bekarya. Kami bisa kok. Dan kami ingin bekarya,” seru Vita. Vita merupakan salah satu kaum muda
difabel Cerebral palsy. Melalui program Dana SINERGI, KSD memfasiltasi Vita untuk mengikuti pelatihan soft skill kesiapan kerja dan pelatihan menjahit di Lembaga Pelatihan Keterampilan (LPK) Alwine
Semarang.

Peserta workshop berdiskusi untuk pratik penyusunan rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif GESI. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)
Peserta workshop berdiskusi untuk pratik penyusunan rencana aksi dan penerapan metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif GESI. (Foto: Andhiani M. Kumalasari/ SINERGI)

Selain mendapatkan pemahaman tentang isu GESI melalui paparan materi dan diskusi panel, peserta workshop juga diajak untuk melakukan pratik penyusunan dan presentasi rencana aksi dan penerapan
metode dan teknik fasilitasi pelatihan kerja yang berperspektif GESI serta praktik micro teaching pendekatan dan teknik pendampingan kaum muda difabel. Kedua sesi kegiatan praktik difasilitasi oleh
tim Kerjabilitas.

Rubby Emir dari Kerjabilitas menjelaskan, “yang terpenting dalam praktinya. Ada empat prinsip yang perlu dipahami dalam melakukan pelatihan inklusif untuk difabel, yaitu, kesadaran, pelibatan,
aksesibilitas, dan dukungan terus menerus.” Dari pelaksanaan workshop ini diharapkan para peserta yang terdiri dari anggota POKSI, trainer Balai Latihan Kerja (BLK) dan LPK, koordinator konsorsia 3P, serta pengusaha mitra pemagangan kerja konsorsia 3P dapat memahami isu GESI. Lebih lanjut, diharapkan juga, masing-masing institusi dapat merancang dan menerapkan rencana aksi metode dan teknik fasilitasi pelatihan dan pemagangan kerja yang berperspektif GESI. (Andhiani M. Kumalasari – Communications Specialist SINERGI).