Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyusun strategi untuk mempercepat investasi di sektor listrik. Menurut Kepala BKPM Franky Sibarani, ada tiga strategi yang bakal mendukung target pembangunan listrik 35 ribu megawatt (MW). "Ini akan dijalankan selama lima tahun ke depan," katanya, kemarin. 

Tiga strategi tersebut adalah fasilitasi enam proyek listrik yang realisasinya terhambat, mendorong percepatan layanan perizinan sektor listrik, dan mendorong perusahaan listrik yang sudah ada untuk melakukan ekspansi atau perluasan investasi. Franky mengatakan, sejak 15 Januari hingga 3 Februari, ada 12 proyek tenaga listrik yang masuk sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) pusat.

Dari seluruh proyek tersebut, tiga proyek berstatus penanaman modal asing (PMA), dan sisanya penanaman modal dalam negeri (PMDN). Proyek-proyek tersebut akan menghasilkan daya listrik hingga 257,8 MW. Jika dibagi berdasarkan jenis pembangkitnya, ada 6 proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), 3 pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan 3 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Proyek-proyek ini berada di 11 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat. "BKPM akan terus mengawal perizinan proyek tersebut agar waktu pemrosesannya sesuai atau lebih cepat dari yang saat ini berlaku," ujar Franky. Selain itu, ada 10 perusahaan listrik lain yang berniat melakukan ekspansi dengan kapasitas total 11.369 MW.

Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Tamba Hutapea, mengatakan sedang melakukan fasilitasi terhadap 6 proyek tenaga listrik yang saat ini realisasi investasinya terhambat. Keenam proyek tersebut terdiri atas 4 PLTU serta masing-masing 1 proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan 1 proyek pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dengan kapasitas 8.136 MW. UCOKRITONGA

Sumber: Tempo.co