BATAM, KOMPAS —Manfaat Batam, Kepulauan Riau, sebagai kawasan ekonomi khusus di Selat Malaka harus diperluas. Manfaat itu jangan hanya dirasakan 1,2 juta penduduk Batam, melainkan juga oleh 50 juta penduduk 10 provinsi di Sumatera.

Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani mengatakan, paling tidak ada dua hal yang harus dilakukan untuk memperluas manfaat Batam bagi Kepri. Pertama, membangun jembatan Batam-Bintan. ”Jembatan akan mempermudah pergerakan barang dan orang,” ujarnya, Selasa (10/2), di Batam.

Selama ini, pergerakan barang di antara kedua pulau mengandalkan kapal roro yang berlayar rata-rata tiga kali sehari dengan kapasitas terbatas. Dengan jembatan, orang tidak ragu lagi membuat pabrik di Bintan. Apalagi, jembatan itu direncanakan melewati Pulau Tanjung Sauh yang disiapkan menjadi pelabuhan internasional.

”Dari Batam dan Bintan, barang diangkut ke Tanjung Sauh. Dari sana, barang diekspor ke pasar global ataupun domestik,” ujarnya.

Kedua, dengan mempercepat interkoneksi listrik Batam-Bintan. Saat ini, hanya Batam yang punya pasokan listrik stabil dan berlebih. Sementara Bintan masih defisit daya. ”Listrik dari Batam bisa dialirkan kalau jaringan interkoneksi siap,” ujarnya.

PLN berjanji proyek interkoneksi rampung tahun ini. Setelah jaringan Batam dan Bintan tersambung, sistem kelistrikan Bintan bisa digabung dan ada daya total hingga 410 megawatt.

Menurut anggota DPR dari daerah pemilihan Kepulauan Riau, Nyat Kadir, perluasan cakupan manfaat tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan potensi Batam sebagai kawasan ekonomi khusus di wilayah terdepan Indonesia.

”Mulai dengan segera memanfaatkan ribuan hektar lahan di Rempang dan Galang. Jangan sampai inisiatif Pak Habibie membangun enam jembatan penghubung Batam-Rempang- Galang sia-sia,” katanya.

Industrialisasi Rempang-Galang menghasilkan paling tidak dua manfaat. Pertama, membuka lebih banyak lapangan kerja. Sumber pekerjanya dapat berasal dari Sumatera, seperti terjadi di Pulau Batam. ”Tiap tahun, ribuan penduduk Sumatera datang ke Batam untuk mencari kerja,” ujar mantan Wali Kota Batam itu.

Kedua, pemanfaatan lahan di Galang dan Rempang bisa mengatasi kekurangan lahan industri di Pulau Batam. Saat ini, sudah sulit mencari sebidang lahan dengan luas minimal 10 hektar per bidang di Batam.

Staf Ahli Ketua BP Batam Asroni Harahap mengatakan, perluasan manfaat Batam dilakukan lewat bandara dan pelabuhan. ”Promosikan bahwa dari Batam, pelancong bisa menuju berbagai tempat wisata di Sumatera,” katanya.

Batam juga dapat menjadi pelabuhan transit aneka komoditas dari Sumatera. Selain untuk mengekspor hasil industri di Batam, pelabuhan juga untuk mengumpulkan aneka komoditas di Sumatera lalu dikirim ke pasar global. Pembangunan Pelabuhan Tanjung Sauh diperlukan.

Dengan 50 juta penduduk, Sumatera sekaligus potensi pasar yang besar. ”Pintu gerbang terdekat dari dan ke sana antara lain di Batam,” ujarnya.(ODY/RAZ)

Sumber: kompas.com